Ulah Pandemi, Pendidikan Alami Resesi

  Selasa, 20 Juli 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi sekolah tatap muka (Shutterstock)

AYOYOGYA.COM -- Berhasil menyeruak tanpa malu, wabah virus corona datang tanpa diundang menyapa jutaan umat di dunia dengan memporak-porandakan kehidupan.

Jahatnya wajah-wajah corona kian lama semakin menggegerkan. Perlahan membunuh berjuta nyawa tanpa terkendali, menggerus menghancur-leburkan setiap nadi yang ingin bertahan dan mempertahankan hidup.

Hingga lebih satu tahun lamanya, wabah ini tak kunjung sirna dan masih merayap di dinding belahan dunia. Menangis mengkis-mengkis segala bidang kehidupan mulai dari bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, dan tak terkecuali di bidang pendidikan. 

Tergoresnya luka yang menjalar di sektor pendidikan utamanya turut dirasakan oleh pendidik dan peserta didik di seluruh instansi pendidikan. Hadirnya pandemi, sejatinya memang membuat pendidikan alami resesi. Berbagai perubahan yang paling dirasakan dari pembelajaran tatap muka beralih ke pembelajaran tatap maya sungguh masif dirasakan. Resesinya di bidang pendidikan memang berhasil membius segala proses pembelajaran. 

Penggunaan teknologi untuk mendukung dan menjembatani pembelajaran online ini tidak seterusnya berjalan mulus. Pikiran kian harus dikerahkan, perasaan diremas oleh keadaan. Adanya kesulitan menjalani sekolah daring menjadi momok yang menakutkan. Siswa dituntut untuk mengikuti pembelajaran, tugas-tugas yang diberikan tak sesuai dengan takaran, ketersediaan kuota menjadi senjata utama yang harus ada dalam pembelajaran, akses jaringan selalu dikeluhkan, hingga transfer materi kepada siswa tidak sepenuhnya bisa diterima secara maksimal. Hal inilah yang membuat pendidikan dikatakan resesi karena situasi yang sedang terjadi saat ini. Semua menjadi hal yang mau tak mau harus selalu diperhatikan dan dihadapi. 

Pembelajaran daring yang dilakukan saat ini merupakan kurikulum darurat yang siap atau tidak siap dilakukan untuk menunjang pembelajaran. Pendidikan boleh saja resesi, asal tidak boleh mati.

Memang “Perubahan adalah hal yang abadi, pandemi telah mengubah kebiasaan diri.” Inilah slogan yang sejalan dengan kondisi saat ini. Saat di mana manusia dihadapkan pada era yang baru, perjalanan kian memberi tantangan dan hambatan. Pandemi sejatinya telah menghadirkan kecemasan. Menjadi harapan bersama, bahwa kecemasan, ketakutan, rasa sakit akan semakin mereda, wabah corona segera sirna, semua sektor kehidupan kembali normal semua, dan senyuman-senyuman kembali merekah bersama. Terus hidup pendidikan Indonesia.

*Penulis: Sofi Andri Yani mahasiswi Universitas Tidar Magelang 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar