Ada Kisah di Balik Nama Kejobong di Purbalingga Jawa Tengah

  Selasa, 20 Juli 2021   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi (Metrum.co.id via Suara.com)

PURBALINGGA, AYOYOGYA.COM -- Provinsi Jawa Tengah memiliki Kabupaten yang bernama Kabupaten Purbalingga. Kabupaten Purbalingga memiliki cerita-cerita yang menarik, loh di baliknya.

Kabupaten Purbalingga memiliki 18 kecamatan yang masing-masing dari kecamatan tersebut memiliki cerita yang menarik. Salah satunya cerita mengenai Kecamatan Kejobong.

Kecamatan Kejobong merupakan salah satu kecamatan di Purbalingga yang mempunyai luas kurang lebih 39,98 km2 dengan jumlah penduduk kurang lebih 1.267 jiwa. Kecamatan Kejobong ini terbagi menjadi tiga belas desa. 

Legenda

Menurut legenda, nama Kejobong ini berasal pada abad ke-19. Pertengahan abad-19 sekiranya berdiri sebuah padepokan yang bernama Kalimeong yang bisa dibilang sangat terkenal pada masa itu. Padepokan Kalimeong dipimpin oleh Bangsa Tirta yang sangat terkenal kesaktiannya dan mempunyai keahlian dalam pengobatan. Dari kehebatannya itu, banyak orang yang datang untuk berguru dengan Bangsa Tirta. Pada suatu hari, orang dari Jawa Barat mendatangi Bangsa Tirta untuk meminta obat untuk tetangganya yang sakit parah. Setelah orang Jawa Barat menyampaikan maksudnya pada Bangsa Tirta, diberilah air yang sudah terdapat berbagai mantra di dalamnya dan air tersebut ditaruh dalam bumbung atau tabung dari bambu.

Bangsa Tirta menyampaikan sebuah amanah kepada orang Jawa Barat. Amanahnya berupa orang Jawa Barat tersebut harus cepat-cepat pulang dan tidak boleh beristirahat di perjalanan, kalau mengabaikan amanah itu Bangsa Tirta tidak bertanggung jawab. Amanah yang disampaikan sudah sering disampaikan juga kepada orang lain yang meminta obat kepada Bangsa Tirta. Setelah mendengar amanah yang disampaikan Bangsa Tirta, orang Jawa Barat melangkah pergi meninggalkan padepokan Kalimeong dengan langkah ragu. Perjalanan yang cukup jauh sudah dirasakan oleh orang Jawa Barat, sehingga membuat dirinya lelah, haus, dan dahaga. Akhirnya terpaksalah beristirahat untuk melepas lelah, duduk di bawah Pohon Pulai sehingga lama kelamaan tertidur dengan pulas tanpa alas tidur. 

Pada saat dia terbangun dari tidurnya, terkejutlah dia karena bambu yang berisi air sudah tidak ada dan yang ada sekarang serumpun bambu yang lebat. Termenung dan merasa takut kalau nanti sampai di Jawa Barat dimarahi, tidak hanya itu dia menyesali perbuatannya karena sudah melanggar amanah dari Bangsa Tirta.

4 Murid

Melansir dari kejobong.desa.id, bangsa Tirta memiliki banyak murid didikannya di Padepokan Kalimeong dengan jumlah ratusan, namun ada empat murid yang sangat menonjol. Dari keempat muridnya itu bernama Suro Gendheng, Suro Begong, Suro Merta, dan Suro Lelono yang masing-masing mempunyai kesaktian yang berbeda-beda.

Suro Gendheng merupakan murid yang pertama dan tertua, berbadan besar, berwajah seram, memliki watak keras, dan kejam. Dia memiliki aji atau kesaktian yang dinamakan Jebug Keli, aji Jebug Keli yang dimilikinya menyebabkan dia tidak bisa tenggelam walaupun dimasukkan ke dalam sungai yang dalam sekalipun dan dia juga kebal terhadap tusukan benda tajam.  

Suro Begong merupakan murid kedua yang mempunyai aji Gajah Wulung, artinya dia bertenaga kuat sekali seperti gajah dan dia kebal terhadap tusukan benda tajam.

Dalam tulisan kejobong.desa.id, Suro Merto murid ketiga yang mempunyai aji Kenteng Waja, dia kebal terhadap tusukan dari benda tajam dikarenakan badannya yang keras seperti baja.

Suro Gendheg, Suro Begog, dan Suro Merto yang merupakan ketiga murid Bangsa Tirta yang pandai merayu sang guru agar memberikan ilmu-ilmu kekebalan tubuh tetapi disalahgunakan.

Ada satu murid Bangsa Tirta yang keempat bernama Suryo Lelono, Suryo Lelono berasal dari Surakarta. Dia memiliki tubuh tinggi besar, berwatak sabar, dan suka mengalah. Tidak hanya itu, dia sangat cakap dalam menerima ilmu yang diberikan oleh sang guru. Dia cerdas dan sopan, sifatnya lemah lembut, periang, dan berbagai ilmu telah dikuasainya karena apa yang diberikan oleh guru cepat sekali dikuasai. Dengan begitu, sang guru memberikan dia hadiah sebuah cincin dari batu akik yang berguna untuk memikat wanita namun, tidak ingin digunakan oleh Suryo Lelono.

Bangsa Tirta akan memberikan pengarahan kepada empat muridnya sehingga meminta mereka untuk berkumpul. Bangsa Tirta mengatakan bahwa dirinya sudah tua dan berharap empat muridnya bisa meneruskan padepokan miliknya, karena Suryo Lelono merupakan siswa yang paling cakap, maka saya akan memberi tugas kepadanya untuk mengambil Guci Emas di Bukit Lemah Bentar. Sang guru mengatakan bahwa Guci Emas yan terdapat di Bukit Lemah Bentar disimpan di bawah pohon Kemuning. Sang guru yang bernama Bangsa Tirta tersebut tak lupa memberikan wejangan kepada Suryo Lelono bahwa bukit tersebut sangat angker sehingga ketiga muridnya diminta untuk menemani Suryo Lelono takutnya nanti terjadi hal-hal yang tidak dinginkan. 

Setelah mendengar wejangan tersebut, mereka langsung pergi menuju Bukit Lemah Bentar. Sesampainya di Lemah Bentar Suryo Lelono dan ketiga temannya tidak mendapat kesulitan karena dirinya dapat mengatasi rintangan yang ada. Akhirnya guci tersebut bisa dibawa pulang. Di tengah perjalanan, ketiga termannya iri melihat keberhasilan Suryo Lelono dan mempunyai niat jahat. Cara yang dilakukan ketiga temannya kepada Suryo Lelono yaitu meminta dengan paksa guci yang sedang di bawa Suryo Lelono tetapi Suryo Lelono bersikeras mempertahankan guci tersebut. Dengan begitu terjadilah perkelahian antara Suryo Lelono dengan ketiga temannya, tetapi perkelahian tersebut tidak seimbang walaupun Suryo Lelono menguasai banyak ilmu bela diri tetap saja dirinya kewalahan melawan ketiga temannya. 

Suryo Lelono kalah dari perkelahian itu dan dirinya tidak sadarkan diri atau pingsan sehingga guci yang ada pada dirinya diambil oleh ketiga temannya dan mereka langsung kabur meninggalkan Suryo Lelono dan padepokan. Pada saat Suryo Lelono bangun dari pingsannya, datanglah Nyi Sandekala yang merupakan kaka seperguruan Bangsa Tirta untuk menolong Suryo Lelono.

Diceritakanlah semua apa yang dialami Suryo dari awal sampai akhir, mendengar apa yang diceritakan oleh Suryo Lelono Nyi Sandekala merasa kasihan melihat Suryo yang lemah lunglai. Akhirnya tenaga Suryo Lelono mulai pulih di antarlah dia ke Padepokan Kalimeong oleh Nyi Sandekala. Sang guru terkaget melihat Suryo tidak bersama dengan ketiga temannya dan kondisinya yang lemah lunglai. Suryo Lelono bercerita semua kejadiannya kepada sang guru, mendengar hal tersebut sang guru marah dan mengumpat atas perbuatan ketiga temannya itu. 

Tidaklah lama terdengarlah kabar mengenai Suro Gendeng yang dikeroyok oleh orang di Banjarnegara karena mencuri sapi, kemudian kakinya diikat dan dibebani batu dan diceburkan ke sungai Brangsong tetapi berkat ilmu yang dimilikinya dia lolos dan bisa mendarat mencari tempat yang aman.

Ada berita lagi dari Suro Begog yang juga dikeroyok oleh masyarakat karena tertangkap sedang mencuri kerbau tetapi dirinya bisa keluar dan melarikan diri sebab aji Gajah Wulung yang dimilikinya.

Terdapat juga kabar dari Suro Merto yang tertangkap di pesisir laut selatan dan dihajar penduduk karena mencuri ikan dan udang di tambak yang menyebabkan tambak rusak sehingga dia dihukum dan di masukkan ke dalam penjara namun dirinya bisa menjebol tembok dan melarikan diri.

Mendengar berita itu, Bangsa Tirta merasa sedih dan prihatin atas kelakuan dari ketiga muridnya yang menyalahgunakan ilmu yang dimiliki. Sang guru bertapa dengan menggunakan aji Kalamudeng dengan tujuan memulangkan ketiga muridnya ke padepokan. Singkat cerita, ketiga muridnya kembali ke padepokan, sang guru berkata dengan nada keras bahwa ilmu yang ada pada ketiga muridnya akan dicabut dan meminta mereka untuk pergi dari padepokan Kalimeong serta sang guru berkata bahwa mereka tidak akan memperoleh kehidupan yang layak kecuali jadi Wong. 

Arti Kejobong 

Wong artinya orang yang berkelakuan baik. Dengan demikian, Kalimeong berganti nama dengan nama Kejobong itu berasal dari kata Kejaba dan Wong yang artinya kejaba dalam bahasa Indonesia berarti kecuali dan wong artinya orang yang baik.

Jadi, nama Kejobong artinya kecuali orang yang baik. Dengan adanya cerita tersebut, bahwa orang-orang yang tinggal di sana orang-orang yang baik, selain yang tidak baik dilarang tinggal di daerah tersebut pada zaman itu tetapi seiring berjalannya waktu siapa saja bisa tinggal di daerah Kejobong asal punya rumah di sana.

Itulah cerita dibalik nama Kejobong yang ada di daerah Purbalingga. (Nandifa Hastha Y / magang Ayoyogya.com)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar