Kenal Lebih Dekat dengan Komunitas Berbagi Beras DIY

  Minggu, 22 November 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Sejumlah relawan dan pengurus Komunitas Berbagi Beras DIY menyiapkan beras gratis di sekretariat di Dusun Bibis RT 3, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul.- (SuaraJogja.id/HO-Komunitas Berbagi Beras DIY)

YOGYAKARTA, AYOYOGYA.COM -- Membuat komunitas bagi masyarakat adalah hal lumrah.

Selain untuk bertukar pikiran, hal itu dibuat untuk bersenang-senang bagi sebagian orang. Tak sedikit dari perkumpulan tersebut yang hanya ingin berkumpul tanpa membuat sebuah manfaat. Akan tetapi, bagi seorang warga Bantul yang bergerak di bidang kemanusiaan, berusaha mengubah perkumpulan tersebut menjadi sarat akan nilai sosial adalah keinginannya.

Zaenuri adalah pemuda yang membuat sebuah perkumpulan tersebut lebih bermanfaat. Bermula dari sebuah perkumpulan alumni SMA, Zainuri membangun komunitas yang dinamakan Berbagi Beras DIY.

"Awalnya kami hanya kumpul-kumpul untuk reuni alumni SMA 1 Sanden. Nah daripada kumpul seperti itu akhirnya kami buat sebuah kegiatan yang bernilai sosial," kata Zaenuri, Sabtu (21/11/2020).

Komunitas Berbagi Beras DIY dibangun pada 2018 lalu, sebelumnya bernama Komunitas SMA 1 Sanden Peduli pada 2016 silam. Zaenuri menjelaskan awal mulanya, anggota komunitas hanya sekitar 20-an orang. Seiring berjalannya waktu, ia melihat bahwa kelompok tersebut dibuat untuk bisa mengajak masyarakat umum bergabung.

"Jadi kami melihat bahwa adanya komunitas ini tentu akan berkembang. Memang ada beberapa orang yang ingin bergabung, tapi karena ada kata alumninya jadi mereka pikir-pikir ulang. Akhirnya kami tetapkan nama baru komunitas Berbagi Beras DIY," kata dia.

Sekretariat dan gudang penyimpanan sendiri terletak di Dusun Bibis RT 3, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Seluruh pengepakan dan pusat pengiriman terletak di lokasi tersebut.

Ia mengungkapkan, dalam sebulan, pihaknya membagikan beras gratis kepada masyarakat yang membutuhkan, terdiri dari kaum dhuafa, lansia yang hidup sebatang kara, difabel, serta anak yatim piatu.

Hingga kini, Komunitas Berbagi Beras DIY telah memiliki 1.410 orang yang selalu dibantu setiap bulannya. Hal itu tak lepas dari aksi relawan dan pengurus dalam menjaring masyarakat yang membutuhkan.

"Kami memiliki sekitar 450 relawan yang rata-rata terdiri dari karang taruna di desa. Mereka yang mendata dan nantinya membagikan beras ini kepada masyarakat tersebut. Sehingga kami sudah memilih secara selektif masyarakat yang harus dibantu," kata Zaenuri.

Komunitas Berbagi Beras menyalurkan bantuan tersebut ke seluruh pelosok desa di empat kabupaten/kota di wilayah DIY. Hal itu mengingat bahwa belum semua masyarakat mendapat bantuan yang baik untuk kehidupannya terutama soal pangan.

Pemilihan beras sendiri, kata Zaenuri adalah bahak pokok masyarakat Indonesia yang tak dapat ditunda-tunda. Sehingga komoditas bahan pokok ini dipilih untuk diberikan kepada masyarakat.

"Kami membagikan 5 kilogram beras kepada sasaran kami. Tiap bulan kami kirimkan melalui relawan karang taruna. Kami melihat bahwa ini penting, karena di Indonesia sendiri beras adalah komoditi yang dibutuhkan oleh masyarakat," jelasnya.

Tak hanya membantu masyarakat miskin, komunitas Berbagi Beras juga membantu menyejahterakan petani. Selama ini, beras selalu dipasok dari petani langsung sehingga ikut membantu kesejahteraan petani di Bumi Projotamansari.

Berbagi adalah hal wajar yang bisa dilakukan masyarakat. Zaenuri menyebutkan jika donatur yang kerap membantunya mencapai 500 orang lebih. Dalam sebulan komunitas ini bisa membagikan sekitar 7 ton beras kepada ribuan penerimanya.

"Dari komunitas ini terbentuk kami bisa mengetahui bahwa masih banyak orang yang perlu dibantu. Dan terlebih lagi masih banyak orang yang ingin membagikan rezeki mereka kepada orang kekurangan ini. Jadi dari komunitas ini kami banyak belajar," kata dia.

Zaenuri berharap jika aksi sosial ini tak hanya berhenti di wilayah DIY, ia berharap aksi seperti ini bisa terus eksis dan melebar secara nasional.

"Tentunya ini dapat ditiru oleh masyarakat lain. Tidak hanya generasi saat ini, tapi lintas generasi dan dapat diteruskan. Sehingga kegiatan ini bisa menjadi amal jariyah bagi kita bersama," terang dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar