PMI Ungkap Kekeringan Dampak Kemarau di Bantul Lebih Panjang

  Selasa, 08 Oktober 2019   Abdul Arif
Umat Islam berdoa setelah melaksanakan Sholat Istisqa atau shalat minta hujan di lapangan Desa Gondosari, Gebog, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (5/10/2019). Sholat Istisqa yang lanjutkan doa bersama itu untuk meminta hujan agar bencana kebakaran hutan dan kekeringan akibat musim kemarau panjang yang melanda sejumlah daerah di Indonesia segera berakhir. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/hp.

BANTUL, AYOYOGYA.COM-- Palang Merah Indonesia Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut kekeringan dampak kemarau 2019 lebih panjang dibanding tahun sebelumnya. 

"Tahun ini seperti pada tahun 2015, sehingga untuk penyaluran air kita itu acuannya seperti pada tahun 2015 mencapai sekitar 500 tangki," kata Pelaksana Lapangan Operasi Kekeringan Korps Sukarela PMI Bantul Mencho Yulianto di Bantul, Selasa (8/10/2019).

AYO BACA : Malioboro Coffe Night Ketiga Digelar Bersamaan Hari Batik

Ia mengatakan, sementara sampai dengan minggu pertama bulan Oktober ini bantuan air bersih sudah tersalurkan sebanyak 329 tangki, bantuan itu berasal dari donasi atau bakti sosial komunitas masyarakat, organisasi kemasyarakatan, badan usaha maupun instansi terkait.

Dengan demikian, kata dia, distribusi air bersih ke lokasi-lokasi kekeringan di wilayah Bantul masih akan terus dilakukan sampai dengan musim hujan nanti, sampai kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi, mengingat masih ada permintaan droping air dan penyaluran bantuan air.

AYO BACA : Perwakilan PDIP-PKS-PAN-GERINDRA Pimpin DPRD DIY

"Untuk kemarau panjang ini baru dapat 329 tangki air. Musim hujan perkiraan BMKG itu awal-awal Desember, tapi biasanya kita stop pengiriman air itu pertengahan bulan pada waktu musim hujan, karena awal musim hujan masyarakat tetap kekurangan airnya," katanya.

Menurut dia, air bersih ratusan tangki air itu sudah disalurkan ke beberapa wilayah seperti di Wukirsari (Imogiri), kelurahan Terong, Mangunan dan Jatimulyo (Dlingo), Srimulyo, Gilangharjo Pandak dan Guwosari Pajangan, namun sebagian besar di Wukirsari, Jatimulyo, Terong, Mangunan dan Srimulyo.

Ia mengatakan, dalam pengiriman bantuan air bersih ke lokasi kekeringan terkadang menemui kendala, seperti akses menuju bak penampungan yang tidak mudah dijangkau armada, sebab harus melalui jalan yang belum beraspal, juga belum ada bak penampungan.

"Kendala kita itu misalnya di Mangunan sampai Munthuk (Dlingo) jarak tangki sampai penampungan air sangat panjang dan (jalan) menanjak, tetapi kita juga mempersiapkan selang yang lebih panjang," katanya.

AYO BACA : Kebakaran Gudang di Sarkem Yogyakarta Tewaskan Satu Orang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar