Menuju Satu Data Jagung

  Jumat, 23 Agustus 2019   Adi Ginanjar Maulana
Jagung.(Antaranews)

Data pangan masih menjadi polemik berkelanjutan khususnya dalam menentukan berapa ketersediaan pasokan dan kebutuhan akan pangan di Indonesia. Setiap kali pemerintah melakukan impor selalu ada perdebatan. Tidak hanya komoditi beras yang menjadi polemik data pangan, tetapi juga jagung. Hal ini mengindikasikan ada masalah pada data jagung dan perlu upaya perbaikan.

Mengapa data jagung, terutama untuk pakan masih bermasalah. Hal ini diduga berawal dari proses perhitungan data produksi jagung yang dianggap sering over estimate atau lebih besar dari capaian produksi yang sebenarnya. Ketika produksi jagung sedang surplus dan pemerintah mengurangi impor jagung, tetapi kenyataan di lapangan masih banyak peternak yang sulit mendapatkan pakan atau kekurangan pasokan atau bila bisa mendapatkan barangnya dalam harga jauh lebih mahal.

Pentingnya perbaikan data jagung

Pada periode pemerintahan terpilih mulai tahun 2019 salah satu fokus pemerintah dalam melakukan pembangunan adalah tetap mengembangkan sektor pertanian. Sektor pertanian diharapkan dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan investasi di Indonesia. Dengan adanya fokus terhadap sektor pertanian, kebutuhan data yang akurat terutama data jagung menjadi salah satu prioritas diwujudkan agar dapat mengambil kebijakan yang tepat.

Bila kita runut Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir kali merilis data produksi jagung pada tahun 2015. Pada tahun tersebut tercatat produksi jagung seluruh Indonesia sebanyak 19,61 juta ton. Provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang produksi jagung terbesar, yaitu 6,13 juta ton. Setelah itu tidak tersedia publikasinya dan selanjutnya data didapatkan dari beberapa sumber berbeda sehingga polemik terus muncul, maka dipertimbangkan perlunya upaya sinkronisasi dan perbaikan dalam menghitung produksi jagung.

Salah satu upaya utama perbaikan data produksi jagung berupa perbaikan data luasan panennya. Setelah BPS berhasil merilis data produksi beras berdasarkan perbaikan luas panen menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA) pada 2018, BPS diharapkan pula dapat memperbaiki data produksi jagung dengan cara yang mirip walaupun perlu penyesuaian. Pada tahun 2019 BPS kembali bermitra dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam upaya penyusunan sistem KSA jagung untuk mengawali perbaikan data jagung ini. Sebelumnya, data luas panen hanya dikumpulkan melalui pandangan mata petugas pengumpul data atau yang disebut eye estimate. Metode tersebut dirasa sangat subyektif dan cukup rendah tingkat akurasinya serta diduga menjadi titik terlemah penghitungan data ketersediaan pasokan jagung.

 

 

Metode baru

KSA jagung merupakan metode baru yang dilakukan dalam rangka memperbaiki data luas panen jagung berdasarkan posisi geografis tanaman yang dibagi menjadi wilayah segmen-segmen yang berukuran satu hektar. Metode ini dilakukan dengan obyektif dan menggunakan teknologi modern melalui perangkat smartphone sebagai alat ukurnya. Canggihnya metode KSA ini tidak membutuhkan sinyal dalam penggunaannya. Selain itu, dalam pengumpulan datanya dilakukan pula pengamatan terhadap fase tumbuh tanaman jagung pada satuan wilayah/segmen terpilih. Dalam setiap segmennya dibagi menjadi empat titik. Setiap bulan akan dipantau fase pertumbuhan tanaman jagung pada titik yang sama.

Pemantauan ini membuat kita dapat mengestimasi seberapa luas lahan panen jagung yang ada pada setiap bulannya di berbagai tempat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya KSA dan hasilnya telah ditunggu dan menjadi harapan dari berbagai pihak untuk mendapatkan data jagung yang lebih baik. Semoga dengan adanya upaya perbaikan data jagung ini, polemik yang terjadi akibat ketidakakuratan data akan teratasi. Selain itu hasil KSA jagung ini kita nantikan untuk dapat menjadi bahan pijakan pengambilan kebijakan pemerintah. Karena itu mari kita dukung upaya perbaikan data jagung ini demi Indonesia yang lebih baik. Hanya saja perlu diingat bahwa penghitungan produksi jagung adalah berdasarkan data luas panen dikalikan produktivitasnya, maka pengukuran produktivitas dalam hal ini menggunakan metode ubinan juga tetap dijaga kualitas hasilnya. Dengan demikian dapat dikatakan untuk mendapatkan satu data jagung sudah semakin dekat.

Suparna

Statistisi Madya di BPS Provinsi DIY

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar