Pemkab Sleman Gelar Sarasehan Budaya

  Kamis, 13 September 2018   Rizma Riyandi
Ilustrasi budaya (Antara)

SLEMAN, AYOYOGYA.COM -- Sebagai upaya mengenalkan dan memberi pemahaman terhadap nilai budaya Kabupaten Sleman, Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan sarasehan tata nilai budaya di aula Hotel Savita Inn, Kamis (13/8/28).

 Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Aji Wulantara menjelaskan bahwa dalam kegiatan sarasehan tersebut dikaji mengenai nilai budaya yang merupakan kandungan yang ada di dalam kebudayaan Kabupaten Sleman.

“Kegiatan hari ini kita mencoba mengkaji mengenai nilai budaya dalam kebudayaan kita khususnya Sleman. Ini tentunya tidak bisa lepas dari dasar filosofi kebudyaan ke-yogyakartaan, tapi sleman punya kekhususan,” jelas Aji dalam kegiatan sarasehan tersebut.

Ia juga menyampaikan bahwa kekhususan yang dimiliki Kabupaten Sleman bisa dilihat dari perjalanan sejarah Pemerintahan Kabupaten Sleman. Hal tersebut tertera dalam lambang (logo) Kabupaten Sleman yang memilki beberapa makna.

“Pertama memiliki makna Prasaja, dimana  pemimpin dan masyarakat sleman itu berwatak prasaja (sederhana), tidak berlebih-lebihan dalam berbagai hal,” jelasnya.

Prasaja ini juga dalam implementasinya bisa dipahami melalui tutur yang tidak sombong, tidak membual dan dapat dipercaya. Dalam hal berpakaian juga prasaja dapat dipahami dengan berpakaian sesuai konteks (resmi, formal, santai) tidak berlebihan serta menghargai orang lain.Lebih lanjut, Aji juga mengatakan bahwa dalam kegiatan tersebut juga diberikan pemahaman mengenai welas asih yang berarti pemimpin yang mencintai rakyatnya.

Menurut Aji, secara universal nilai welas asih ini terdapat dimana-mana tetapi ketika menjadi sebuah identitas khusus yang memberikan makna pada lambang Kabupaten Sleman. Hal itulah yang tidak dimiliki wilayah lain  dimana sleman memiliki filosofi dalam bukti fisik yang ada.

“Kemudian ada Sembada yang menjadi slogan kabupaten Sleman serta terdapat dalam logo Sleman (segitiga) yang memberi makna tanggung jawab, jiwa ksatria. Ini yang tidak dimiliki wilayah lain. Nilai mendasar tetapi tidak dimiliki wilayah lain,” papar Aji.

Selain itu juga terdapat makna tembayatan yang berarti bekerjasama, yaitu kerjasama antara Pemerintah atau pemimpin dengan rakyat dan para pakar atau para profesional dalam membangun Pemerintahan Kabupaten Sleman. Keempat karakter inilah, menurut Aji, menjadi filosifi dasar dalam nilai budaya dalam kebudayaan Kabupaten Sleman.

“Disamping memperkenalkan kita juga memberi pemahaman rujukannya, itu yang kia cari. Sebetulnya ajaran budaya jawa yang mengandung nilai itu banyak sekali tidak hanya empat karakter tadi. Tapi setidaknya kita bisa mengerti bagaimana di sejarah masyarakat kita ini ada sumber yang menjadi rujukan itu,” ujar Aji.

Kegiatan sarasehan diikuti sejumlah peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, pemerhati budaya, pendamping desa budaya, pelaku seni, juga guru-guru yang berada di wilayah Kabupaten Sleman. Acara ini juga dihadiri oleh dua narasumber yaitu Kepala Dinas Kebudayaan Sleman serta Dosen UNY Prof. Suwarno Pringgowidagdo.

Dalam kesempatan ini, Aji menghimbau kepada masyarakat Sleman agar memahami apa yang menjadi nilai budaya dari Kebudayaan Kabupaten Sleman. Sehingga dapat menjadi rujukan dalam proses menghadapi tantangan zaman dengan globalisasi yang tanpa arah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

Komentar